Non, bakalan pulang jam berapa?Tanya sang pembantu rumah. Velinka meletakkan handphonenya sejenak sebelum menjawab pembantunya itu.

Entahlah Mbak, belum pasti. Tapi nanti saya kabarin lagi Mbak.Ia tersenyum sekilas padanya.Non bakalan pulang dianter pacar nona?” Pertanyaan Mbak Sari membuatnya sedikit tercengang. Seingatnya, dia belum pernah berpacaran lagi setelah putus dengan mantannya pada saat dia menginjak bangku kelas 12 dulu.

“Pacar? Pacar apa mbak? Saya kan gak punya pacar Mbak” Kini, giliran Mbak Sari yang terlihat kebingungan, “Ituloh Non… Yang tinggi mirip bule ituloh. Yang pernah non kenalin ke mama papa non” Velinka terdiam sejenak. Teringat dengan bayang bayang mantannya yang sudah susah payah ia coba untuk lupakan. Velinka menarik napasnya dan melepaskan kepalan tangannya yang entah sudah sejak kapan mengepal. “Mbak, saya kan sudah putus sama dia. Mbak lupa ya?”

Velinka hanya bisa menatap Mbak Sari dengan tatapan sendu. Bohong jika ia tidak merindukannya sedikit pun. Mbak Sari meminta maaf padanya dengan panik. Takut ia tak sengaja melukai hati Velinka dengan mengingatkannya pada orang yang telah berpisah dengannya. Namun, sebelum ucapan Velinka keluar dari mulutnya, suara nyaring dan keras klakson mobil terdengar dari luar pagar halaman rumahnya.

“Saya pergi dulu ya Mbak, kalau papa nanyain saya dimana, bilang saya lagi keluar sama teman-teman saya” Ia pun melambaikan tangannya pada Mbak Sari dan menyelempangkan tasnya.

Menarik buka pintu rumahnya, Velinka disambut oleh mobil Revano yang terparkir didepan pagarnya. Ia dapat melihat Revano yang menunggunya pada tempat duduk pengemudi mobil tersebut. “Lama amat. Tumben” Ucap Revano yang menurunkan kacamata hitamnya. Velinka hanya terkekeh, “Maaf, tadi Mbak Sari ngajak ngobrol sebentar. Nunggu lama?” **Tanya Velinka pada Revano. Revano menggelengkan kepalanya. “**Gak juga sih. Baru 10 menit. Udah deh mending lo cepetan naik. Bagas udah mulai bawel di chat. Lo naik dibelakang bareng Kaela ya.” Velinka menggangguk dan membuka pintu belakang mobil. Ia pun menyapa Kaela dan duduk disebelahnya.

Revano pun kemudian menancapkan gas dan berangkat menuju rumah Bagaskara yang letaknya tak jauh dari rumah Velinka. Bincangan kecil dilakukan oleh Velinka dan Kaela untuk mengurangi rasa bosannya. Sesekali, Revano pun ikut berbicara pada obrolan mereka. Tak lama kemudian, mereka pun sampai pada pagar halaman Bagas dan mendapati Bagas yang telah menunggu didepan pagar dengan keduanya melipat diatas dadanya.

Muka lo asem banget. Senyum dikit dong manis” **Ejek Revano yang disambut oleh ekspresi jengkel Bagas. “**Bacot Re. Gue nunggu 40 menit ya kampret.” Bagas pun berjalan dan memasuki mobil. Dia duduk didepan bersama Revano dan menoleh kebelakang. Matanya menemui Velinka dan Kaela yang telah duduk dibelakang melambai padanya. “Pantesan gua nunggu lama. Jemput Kaela sama Velinka dulu rupanya. Ah lu mah bajingan. Katanya mau jemput gua duluan.”

“Sorry gas, but ladies first” Usil Kaela yang membuat Bagas terkekeh.Makanya gas, jangan percaya omongan Revan. Pendusta jangan dipercaya” Tambah Velinka yang kini mengikuti Kaela untuk mengusili Bagas. **“Salah gue lagi kalau ngobrol sama lu bertiga.” Ucap Revano yang mendengar namanya diungkit Velinka.

Perjalanan menunju rumah Salsabilla dimana pesta itu diadakan tidak memakan waktu lama untuk mereka berempat. Entah itu Revano yang mengebut atau memang waktu telah berjalan secepat itu.